Ciri – Ciri Pendidik yang tidak berkualitas


Assalamualaikum wr.wb
Good evening ladies and gentlemen, piye kabare?

Kali ini penulis ingin berbagi informasi kepada sahabat semua kalau di Indonesia itu masih banyak banget Pendidik yang tidak berkualitas. Jadi jangan heran kalau hasil nya juga kurang memuaskan. 



Berbicara tentang Pendidik merupakan hal yang sangat penting di dalam hidup kita. Yup, benar sekali bahwa kita selalu memiliki pendidik. Sadarkah sahabat selama ini kalau kita punya pendidik? Pasti sadar donk , mulai dari ibu dan ayah kita yang menjadi pendidik disaat kita kecil dan belum masuk sekolah dan bahkan sampai sekarang beliau – beliau lah yang menjadi pendidik murni setulus hati. Dan setelah kita masuk sekolah kita mendapatkan pendidik tambahan yang kita panggil Guru. Dan setelah kuliah kita panggil pendidik dengan nama : Dosen. Wow.. sungguh senang ya jadi pendidik! . Sukseskan lah orang lain maka kamu akan sukses! Ini lah salah satu motto guru favorit saya. Nah kalau gitu, memang benar donk! Mulai kita di dalam kandungan ampek kolot gini, pendidik itu selalu ada men.. Cuma sakitnya tuch kalau jumpa ama pendidik yang abal – abal lagi menyesatkan. Menyesatkan gimana? Check it out.

Pendidik yang tidak berkualitas itu :

1. Pendidik yang hanya pinter bertheory.

Jika sahabat bertemu guru seperti ini dia adalah pendidik yang tidak berkualitas. Seharusnya pekerjaan yang cocok untuk beliau ialah menjadi peneliti pendidikan. Bukan menjadi pendidik! Dan di Indonesia banyak sekali kita jumpa tipe seperti ini. Termasuk dosen – dosen yang Cuma pandai berotoriter, tapi ketika di lapangan nothing will be gotten by students. Saya selalu mengutuk – ngutuk dosen yang datang ke lokal saya ketika saya jumpa dosen yang abal – abal ini. Cuma bisa kasih penjelasan bual belaka, tapi ketika kami boring dia malah marah – marah dan gak bisa controll kelas. Inikah yang berkualitas itu? Seharusnya kan dosen itu melihat situasi siswa nya, apa yang siswa butuhkan itu menjadi goal awal yang harus di setting oleh seorang pendidik. Bukan malah menyampaikan apa yang dia ketahui, tapi lihatlah apa yang siswa butuhkan. Ayo donk pendidik – pendidik seperti ini cepat insyaf. Bukan mencerdaskan bangsa malah sebagai panci tekanan bagi siswa.

2. Pendidik yang tidak mau menerima usulan

Buk.. kita besok libur ya? Kan 1 muharam.. Gak! Kita harus masuk!. Pendidik seperti ini baiknya kita apa kan ya? [ I am thinking now..] Seandainya saja Dosen itu tidak egois dalam membuat jadwal, tidak egois dalam pertemuan, tidak egois dalam hal bimbingan. saya yakin gak akan ada mahasiswa yang di drop out dari kampus. Kita sering kali mengatakan bahwa mahasiswa yang sampai semester 14 itu adalah mahaiswa yang sepengetahuan kita “bodoh”. Bodoh karena dalam jangka waktu yang lama belum juga kelar skripsinya. Padahal nyatanya dalam lapangan dosen sendiri sibuk dengan tugas luarnya. Lebih tepatnya bisnis tambahan . Pertanyaannya : tugas dosen itu sebenarnya berapa persen di kampus? Jangankan untuk bimbingan untuk masuk belajar di kelas aja sangat susah. Belum lagi jumpa dosen yang mudah merajuk seperti anak –anak dan terakhir masuk kelas merepet – repet bilang kelas gak punya leadership. Sakit men...!! yang gak jelas siapa, yang marah siapa. Ini dosen sangat tidak berkompeten guys,, kalau emang karena gaji, please donk find another job to get much money.

3. Dosen yang selalu telat masuk

Gimana mau di katakan berkualitas kalau masuk aja 15 menit sebelum pulang. Siswa sudah bosen nunggu di kelas, perut keroncongan, mata mulai kengantuaan. Dosen yang di tunggu tak juga kunjung datang. Tipe yang gini nich merusak citra bangsa Indonesia. Jadi jangan heran kalau melihat PNS keliaran di mall saat jam- jam mata pelajaran. Pendidik ini Cuma menang beruntung aja. Nasib emang kadang beda dengan yang kita harapkan.

4. Dosen yang selalu liat buku

Heran banget liat dosen yang masih textbook. Yang namanya dosen harus nya uda experts donk dalam bidangnya. Kalau emang belom experts ya harus belajar di rumah, bukan malah liat buku di kelas dan jelasin. Parahnya lagi kalau dia kasih tugas, tugas yang di beri gak pernah benefit bagi siswanya. Siswa Cuma merasa tertekan agar cepat menyelesaikan tugas demi nilai. Bukan kesadaran dalam menggali ilmu itu sendiri. Kenapa? Liat aja tuch dosen. Ngajar masih kayak guru SD yang liat buku, baru di ajarkan. Kalau gitu mending pulang aja dech, bilang am siswa baca buku halaman segini, toh entar siswa bisa paham sendiri, benar – benar dosen tanpa persiapan.

5. Pendidik yang selalu merendahkan siswanya

Sebagai siswa kita seharusnya wajar melakukan kesalahan. We are human being guys... Karena di kampus adalah tempat kita berbuat salah. Dan dosen membantu kita agar menjadi benar. Tapi sering kali kita mendapatkan dosen yang menuntut kita agar selalu benar. Dan tak segan – segan menyalahkan IQ kita yang emang kurang mantap dalam belajar. Kita kan memiliki 9 kecerdasaan di diri kita, wajar donk kalau semua belum optimal dan wajib kita gali lebih lagi. Ketika salah ayo nak, ibu bersama mu. Bukan malah apa- apaan sich, kayak gitu aja gak bisa. Dasar dosen yang memuakkan!

6. Pendidik yang selalu go forwad

Jenis dosen seperti ini ialah jenis dosen yang sangat cuek. Mau siswa paham atau tidak faham yang penting deadline ke deadline. Paham tidak paham harus maju kedepan. Kenapa mesti ada dosen seperti ini yang selalu mengejar target tinggi padahal basic dari siswa tidak mencukupi. Walau goal dalam 1 semester Cuma 2 itu lebih berarti bagi siswa. Mereka paham yang ke dua itu dengan sebenar – benarnya. Bukan malah 20 tapi siswa jadi pelonga’ pelongo kayak burung beo. Siswa jadi mengikuti kehendak dosen. Padahal dosen yang baik itu selalu melihat kondisi siswanya. Apa yang siswa ku butuhkan? Inilah fundamen pertama yang menjadi kewajiban dosen agar tercapai tujuan dari pendidikan itu sendiri.

7. Pendidik yang kurikulumnya tidak pernah berubah

Ketika saya di semester tertentu , senior saya sudah bisa menebak tugas apa yang akan dosen berikan kepada kami. Saya heran apa senior saya yang magic atau dosen nich yang gak berubah. Ternyata setelah bertahun – tahun dosen itu mengajarkan materi yang sama seperti sebelumnya. Lagu yang di putar juga itu – itu aja. Gimana dosen gak hafal kalau yang diajar dari tahun ketahun itu saja. Inget ya! Walau yang kita jumpai itu orang yang berbeda, buat donk cara baru untuk membuat siswa lebih tertantang. Gunakan teknologi untuk mempermudah pembelajaran kita. Don’t be odd person!

8. Pendidik yang tidak pernah minta evaluasi dari siswanya

Sebagai pendididk meminta refleksi hasil pembelajaran itu sangat di perlukan demi improvement. Ketika selesai ujian mata pelajaran usahakan untuk memberi refleksi dengan siswa, ini tanda bahwa dosen emang niat untuk mengubah dirinya. Bukan malah berfikir dia sudah perfect dan gak butuh masukan siswanya. Evaluasi itu sangat penting bukan untuk siswa saja melaikan untuk dosen juga. Maka jangan heran kalau sudah 2 semester diajar dosen tersebut, siswa tetap saja gak hafal nama dosennya. Gimana mau hafa kenal aja karena dia datang kekelas. Kalau dosen peduli pasti siswa juga peduli. Sungguh menyedihkan kalau kita sebagai pengajar tapi siswa tidak mengenal!

Yups, itu lah jenis – jenis pendidik yang tidak berkualitas. Harapannya bagi dosen atau pendidik yang membaca artikel ini dapat mengubah sikap dan prilakunya dalam mencerdaskan bangsa. Guru adalah tugas yang mulia. Muliakan lah diri mu dengan berkorban sejauh ilmu yang kamu dapatkan. Ikhlas dalam mengajar, rela dalam pengaplikasian. Karena kesuksesan kita, kesuksesan Indonesia berada di tangan Pendidik Indonesia yang Luar biasa.
Salam tripepa.
Tag : Artikel, Zen
0 Komentar untuk "Ciri – Ciri Pendidik yang tidak berkualitas"

Back To Top