Badai Mencekam Malam

Oleh: Rahma

detak -detak jantung kian mengiringi
ayunan-ayunan langkah kaki yang kian mengapung
tersendat diudara kian bergeming tak pasti
seraya berteriakkan akan nasib baik atau buruk

aliran merah darah terlihat trasparan
dan putih tulang terlihat kokoh tapi retak
meneduhkan dalam rindangnya pohon tepi pantai
yang berbaring diatas hamparan pasir luas

yang kian menyebut-nyebut sesak napas
terdengar dari desahan gelombang ombak
yang menggulung mesra kian menjunjung merdekanya
terpanah menatap langit luas

awan-awan menggantung bagai raga saat ini
meneropong jauh tersohor sinar kilat mendebarkan
Pekat nian kian meruntuhkan jantung seketika itu
berdiripun tergagap tak mampu

seluruh aliran darah seketika tersendat
runtuh bagai puing bangunan tua 
terbelalak sinarnya muncul kembali
dengan warna putih pekat mengkilap tak teratur

gelombang-gelombang menari tak beraturan
menutup mata seketika menatap langit dan menjatuhkan diri
teras rumah yang mengkilap pancarkan bayang sinarnya
memberi ruang pelindung bagi raga yang terapung

desas desus hati dan pikiran bersatu padu
tak tersatukan justru terbentang berbeda
hingga tersengat karena sendirinya
membungkam mulut tak terlukis

berat bak menopang berton-ton besi di dada
sesak, berat, dan sungguh mencekik
merenggut harapan tuk menatap bulan bintang
yang setia bertatap mesra di langit

Badai datang ketika malam dinanti...

Tag : Puisi, Rahma
0 Komentar untuk "Badai Mencekam Malam"

Back To Top