Hari Selasa begitu cerah, untuk melakukan rutinitas akan semakin semangat. Ketika aku bersiap-siap pergi kesekolahku, aku adik kelasku membereskan barang dilemarinya dan memasukkan ke koper besar, aku hampiri dia dan menanyakan apa yang sedang dia lakukan,
"Maya, kamu mau kemana?"tanyaku sembari melihat isi kopernya
"eh mba, hari ini aku mau pulang mba, ada acara keluarga dirumah, "jawabnya santai sembari memakai switter
"oh, udah bikin surat izin sekolah?"tanyaku
"udah aku titipin keteman mba, mba santai saja. Di kost mba sendirian yah, jangan nangis.hehehe"ledek dia
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang aneh, namun aku biarkan begitu saja. Mungkin memang kepergiannya ada hal penting yang mesti dilakukan. Aku tetap berpikir positif, dan melanjutkan kegiatanku seperti biasanya, sekolah, siaran, dan beberapa kegiatan organisasi. Mmebosankan memang, ntah kapan aku bisa bersemayam di gua, istirahat.hehehe
...
Hari ini
adalah hari jumat, dan itu artinya tidak ada rutinitas sekolah, hanya saja
organisasi yang biasanya ada rapat dan kumpul dengan teman-teman Radio.
Saatku
membereskan lemariku yang terlihat sangat berantakan, terdengar langkah kaki
dari luar begitu cepat, dan semakin mendekatiku. Tiba-tiba ada sosok yang
memelukku dengan kerasnya dan di ikuti isak tangis yang keras. Aku kaget dan
segera menoleh,
“Maya…”
triakku sembari menatap matanya
Untung
tidak ada orang di kost, selain aku, yang lain sedang mengikuti pelatihan
senam di lapangan.
“mbaa….”
Panggilnya sembari menangis dan menunduk dalam
“iya
sayang, ada apa dengan kamu? Kenapa kamu nangis?” tanyaku sembari membelai lembut rambutnya
Pelukannya
semakin kuat, dan membuatku semakin bingung apa yang harus aku lakukan kalau
dia seperti ini terus. Aku hanya membelai lembut kepala dan pundaknya, berharap
sedikit menenangkan, sehingga dia mau untuk bercerita.
“mba
ambilkan minum dulu ya de, “
Aku
lepaskan pelukannya dan mengambilkan minum untuknya. Dia mau untuk meminumnya
dan dia terlihat haus.
“sudah
tenang?”tanyaku lirih
Dia
sepertinya sudah siap untuk bercerita, tatapannya kosong, air matanya masih
terus mengalir walau tidak diiringi dengan isakan.
Aku
semakin tidak tega melihat dia seperti itu, aku masih saja memancing dia untuk
cerita. Agar beban dipikirannya sedikit berkurang.
“mba..”
“iya de,
“
Dia
memelukku lagi, dan menangis lagi semakin keras, di sela-sela tangisannya dia
berbisik.
“aku
telah berdosa mba”
Aku
masih tidak mengerti apa yang dia katakan itu, dosa yang bagaimana aku masih
belum tahu.
“kamu
melakukan dosa apa de? Semua manusia pasti punya dosa, jangan khawatir, Allah
Maha Pengampun” kataku menguatkan nya
Dia
melepaskan pelukannya, dan dia mulai bercerita.
“mba,
sebenarnya kemarin aku pergi bukan kerumah. Tapi ..”
“tapi
kemana?” tanyaku penasaran serasa mataku mau copot
“aku
pergi ke Jogja mba, sama pacarku”
“apa?
Lalu?”mendengar itu perasaanku semakin tak enak
“lalu…
aku udah melakukan hal yang dilarang agama, aku udah ngga suci mba, aku udah
ngga perawan, aku udah berdosa mba, aku hina” nadanya makin keras, isakannya terdengar keras
Aku
kaget, dan tangisanku pecah. Aku membayangkan penyesalan yang begitu besar dari
nya. Aku memeluk eratnya tanpa berkata apapun. Hanya belaian lembut yang ku berikan berharap menguatkannya. Dan berkali-kali hati ini bergetar mengingat pernyataannya itu. Dalam hatiku berdoa, semoga dia mendapatkan ampunan, dan semoga tidak terjadi apa-apa dengannya.
“mba..
aku menyesal mba, aku khilaf. Sekarang apa yang harus aku lakukan sekarang mba,
kalau sampai aku hamil bagaimana, aku ngga mau orang tuaku tahu tentang hal ini
mba, aku ngga mau” tanyanya sembari menangis tak tertahankan
“sabar
sayang, ini cobaan buat kamu. Dan ini harus kamu hadapi, ini kesalahanmu kamu
harus mampu menyelesaikannya, jangan khawatir mba akan bantu semampu mba
nantinya. Yang pasti kamu sudah mengakui kesalahanmu .”kataku sembari menguatkan
“mba,
makasih mba, masalah ini jangan sampai mba bocorkan kesiapa-siapa!”pintanya sembari mencium tanganku
“tidak
akan de, ini adalah aib kamu, tidak mungkin kalau mba membicarakan hal ini.
Sekarang kamu tenang yah. Oh iya masalah kamu di cari sama pengurus kost nanti mba
yang ngomong, kamu harus siap di hukum atas kesalahanmu kabur dari kost,!”
“terus
aku harus jujur juga pergi ke Jogja?’
“iya,
jujur cukup sampai kamu pergi kejogja gitu saja. Janganlah sampai kamu cerita
masalah yang ini.”
“iya
mba,”
Rasanya
mendengar ceritanya begitu menyayat-nyayat hati yang sudah terluka, sakitnya
melebihi sakit hati karena diputusin mungkin. Tapi di sisi lain, kenapa dia begitu perrcaya sama
aku untuk menceritakan hal sepribadi itu. Tapi suatu penghormatan jika memang
aku bisa dipercaya. Dan suatu kewajibanku untuk menjaga kepercayaan itu.
...
Seminggu
sudah ku sembunyikan masalah ini, dan sepertinya harus ada jalan keluar lain.
Hingga masalah ini akan cepat selesai, terlebih seminggu ini Maya hanya diam di kost, demam, muntah-muntah
dan tidak enak badan. Rasanya ku tidak tega melihat semua hal ini, di
sembunyikan begitu saja. Sedangkan aku berpikir kalau dengan berbicaralah
masalah ini akan selesai.
Orang tua Maya, sudah tenang seminggu ini, karena sudah mendapatkan kabar kalau anaknya
sudah di kost lagi. Dan ketika itu juga semakin tidak tega jika harus
berbicara sejujurnya mengenai masalah yang Maya hadapi.
Saat ku
siapkan sarapan pagi untuknya, dia terlihat sedih dan menangis, ntah ada
masalah apa lagi yang dia hadapi. Aku coba tanyakan dengan lembut,
“sayang,
kenapa nangis?”tanyaku
“mba…”rintihnya
“iya,
kenapa? Cerita saja kalau ada masalah”
“ibu
mba, ibu mau kesini hari ini. Ibu tahu kalau aku sakit, dan aku sudah nggak
kuat lagi menyembunyikan masalah ini mba. Aku bisa minta tolong?”pintanya
“lalu?
kamu sudah siap dengan segala resiko yang ada nanti. Ketika kamu bicarakan
semuanya, apa sudah siap dengan sikap ibumu nanti? Mba harap kamu sudah siap
dengan segala resikonya nantiyah, kamu harus berani mengakui kesalahanmu, mba
yakin kamu kuat menghadapinya nanti. Lalu kamu mau minta tolong apa, katakan
saja!”
“iya
mba, aku sudah siap dengan segala resiko yang ada. Mba aku minta tolong nanti
mba yang bicara sama ibu ya!”
“apa?
Mba yang bicara tentang ini semua?”aku tersentak
“iya
mba, aku nggak bisa mba, aku nggak akan bisa bicara depan ibu tentang masalah
ini. Aku percaya mba bisa bantu aku, tolong mba tolong. Nanti siang ibu sudah
disini, nanti kita keluar kost untuk membicarakan masalah ini ya mba”
Dengan
penuh pemikiran, aku niatkan untuk membantu adik ku ini. Tidak ada pilihan lain
selain meng-iya-kan untuk membicarakan masalah ini dengan ibunya nanti,
Adzan
dhuhurpun tiba, aku masih menjaga Maya dan shalat di kamar, detik-detik penantian ibu Maya,
membuatku gemetar, gelisah, khawatir, aku harus menyiapkan berbagai kata yang tidak terlalu
menyakitkan untuk didengar ibunya, namun tidak ku temui pula.
Hingga
waktunya tiba, ibu Maya datang dengan mata kerinduan
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam,
ibu” jawab Maya sembari memeluk erat ibunya matanya mulai berkaca-kaca
“kamu
sakit apa nak, kenapa tidak segera ngabarin ibu? Ibu khawatir”tanya ibunya sembari membelai lembut kepalanya
Mata
ibunya sudah berkaca-kaca, sepertinya rasa sayang itu tidak mampu di wujudkan
dengan apapun. Aku yang sedari tadi melihat mereka, terasa sakit pula jika
nanti aku bongkar rahasia yang aku tahu. Bagaimana nanti respon ibunya, lalu
bagaimana nanti rasa sakit ibunya.
Aku
hanya berdoa, semoga inilah yang terbaik. Dan inilah jalan yang harus aku lalui
untuk membantu masalah ini, agar cepat selesai.
Satu jam
kemudian, Maya mengajakku untuk keluar dari kost bersama ibunya. Kita pergi
jauh dari keramaian dan duduk ditempat sepi dan aman dari orang-orang,
“apa-apaan
kamu nak, ibu kok diajak pergi disini. Sepi sekali nggak ada manusia satupun”
“maafkan
aku ya bu, sebenarnya ada masalah penting yang harus ibu tahu” kata Maya,
kepalanya mulai menunduk dan matanyapun berkaca-kaca
“maksud
kamu apa nak?”ibunya semakin penasaran, terlihat tubuhnya gemetaran
Aku
semakin nggak tega melihat mata ibunya, aku hanya menunduk dan semakin
menunduk. Hingga akupun menangis, memaksa untuk kuat tapi aku tak bisa. Teringat ibuku yang begitu penyayang membayangkan tersakiti dengan kabar yang akan aku bawa ini.
“mba,
tolong jelaskan mba!”pinta Maya dengan lemah dan matanyapun berkaca-kaca
Aku
mulai menatap mata ibunya dengan ketulusan, dan dengan perasaan yang tak tentu
arah, mencoba menguatkan hatiku untuk tetap tenang, dan berharap inilah yang terbaik.
“ada apa
sebenarnya ini nak Salsa, ibu semakin ngga ngerti!” tanya ibu Maya dengan geram, matanya menatapku dengan penuh penasaran
“baiklah
bu, saya akan mencoba menjelaskan ke ibu. Namun sebelumnya saya minta maaf
sekali karena saya lancang menceritakan ini sama ibu, dan hal ini karena
permintaan anak ibu.”
Ibu Maya terlihat semakin nggak karuan, sedangkan Maya menunduk, menangis tak berdaya.
“katakan
saja nak, katakan sejujurnya, ada apa sebenarnya?”tanya ibu Maya dengan penuh
penasaran
“ibu,
sebenarnya seminggu yang lalu, anak ibu kabur dari kost itu ke Jogja. Dia
bermain kesana bersama teman prianya bu. Dia anak kost sini juga, dan
mohon maaf sekali lagi, anak ibu dan pria itu bermalam di Jogja, dan menginap
di sebuah Hotel di sana, dan mereka berdua …”
Kalimatku
terputus, karena tiba-tiba saja air mataku keluar tak tertahankan. Aku langsung memeluk ibu Maya, dan melanjutkan kalimatku,
“…bu,
mereka melakukan apa yang tidak seharusnya mereka berdua lakukan?”
Tiba-tiba
ibu Maya melepaskan pelukanku dan memegang pipiku untuk meyakinkan
“apa
katamu nak, katakan yang jelas nak!!”tanya ibu geram
Ibu Maya
semakin tidak mengerti, aku tidak berani menatap matanya. Akupun menangis Maya hanya menangis dalam tundukannya.
“Maya
dan pria itu melakukan hubungan bu, dan saya tidak tahu bagaimana bisa terjadi.
Karena mungkin syetan waktu itu lebih kuat dari mereka bu, tolong maafkan
kesalahan mereka berdua bu maafkan!”
Aku
semakin menangis, dan ibunya spontan memelukku dengan kuat, dan tangisannya
meledak.
“nak
Salsa, nak Salsa apa yang harus ibu katakan kepada ayah Maya nanti nak. Kenapa
jadi begini ya Allah, anakku berdosa kepadamu ya Allah, maafkanlah anakku. Dosa
apa aku ya Allah, kenapa anakku menjadi begini. Aku mencari rejeki halal, kenapa anakku menjadi seperti ini, apa salahku ya Allah, apa salah dari suamiku.”
Tangisan
semakin tidak tertahankan, semuanya terdiam ketika Maya bersujud di hadapan
ibunya dan mencium kakinya dengan penuh penyesalan. Sedangkan ibunya hanya
menangis tak berbuat apa-apa. Aku semakin tidak tega melihat pemandangan ini. Ibu Maya terpejam dan sepertinya tidak ingin melihat anaknya itu.
Hingga
membuatku angkat bicara lagi,
“bu,
tolong maafkan Maya bu, saya tahu saya bukan siapa-siapa disini, saya tahu apa
yang dia lakukan adalah salah, tapi dia sudah mengakuinya bu. Tolong maafkanlah
dia”pintaku sembari bersujud di hadapan ibunya
Tidak
ada jawaban apa-apa selain tangisan yang semakin keras, dan membuatku bingung
harus bagaimana. Sedangkan Maya mencoba meminta maaf dengan terus menciumi kaki
ibunya dan mencoba memeluknya. Beberapa menit kemudian, ibunya balik memeluk
dengan dekapan kasih sayang, dan itu adalah pemandangan paling menyedihkan yang
pernah aku lihat.
“ibu
sudah maafkan kamu nak, sekarang bertaubatlah kamu nak ke pada gusti Allah, ibu
tidak mau kalau anak ibu sampai berbuat dosa lagi” isakkannya mulai mereda namun air matanya semakin deras
“iya bu,
iya. Maafkan Maya bu maafkan, Maya salah”
Sangat
menenangkan setelah kata maaf diterima dan satu tahap telah selesai dilakukan,
dan aku harus melakukan banyak hal lagi untuk menyelesaikan masalah Maya ini.
tidak ada tujuan lain kecuali tujuan untuk membantunya.
Untuk
selanjutnya adalah menemui pria, dan orang tua si pria, menceritakan hal ini
dan meminta pertanggungjawaban, dan segera kejenjang pernikahan. Agar tidak
menjadi masalah besar dikehidupannya, jika tahu kalau Maya sedang hamil. Tidak
akan kubiarkan jika itu menjadi sebuah gosib setiap hari teman-teman di kost, sekolah. Dan yang pasti satu hal lagi, yaitu membuat alasan keluar dari
sekolah.
1 Komentar untuk "Penyesalan Membuka Cakrawala"
cakep nih certnya ,,,,hehe