Mata Air Kebodohan, Sebuah Puisi Sang Imajiner

Saat mulai membuka mata
Di awal memulai kehidupan
Hingga pelita meredup
Dan penat menggayut ti mata

Sisi kebinatangan yang
Menentukan pilihan
Titik imbang yang timpang
Mengalirnya kebodohan
Pada samudera biru nurani
 
Terbitnya fajar
Tenggelamnya harapan
Berseminya kuncup
layunnya jiwa

Kubaringkan tubuhku
Dilapangnya padang
Berharap bertemu sang malaikat
Yang mau membebaskan jiwaku
Lama kunanti
Langit seakan menjawab dengan hujan
Ku persiapkan diriku untuk kebebasan
Satu gelegar guntur telah membuka jalan

Satu gelegar lagi membuatku buyar
Terhenti dari imajinasi
Kembali menjadi pesakitan
Jadi contoh buat mereka yang belajar hidup

Satu gelegar lagi
Menyadarkan betapa bodohnya aku
Untuk berhenti berharap
Kekuatan yang telah membawaku mengarungi semua ini

Dan gelegar terakhir kukatakan
Apa buruknya menjadi pelengkap penderita
Apa buruknya menjadi pecundang
Bukankah peran hanya butuh penghayatan
Untuk menjadi aktor terbaik.
Di lakon berikutnya
Ku kuatkan karakterku
Dan terimakasih tuhan
Peranku menuai banyak sensasi

Tulisan dikirimkan Oleh :
Ricky Ara Sendi
Seorang Filsuf Muda Indonesia, Pecinta Kopi Gayo
Motto : "Sangat Mudah Memahami Saya, Cukup dengan Secangkir Kopi dan Sebatang Rokok dan Lihatlah segala sisi tentang saya"
 
0 Komentar untuk "Mata Air Kebodohan, Sebuah Puisi Sang Imajiner"

Back To Top