Bumi Tokyo saat itu sedang musim salju, aku dengan mantel tebalku berjalan sambil menyemburkan nafas uapku. Dingin sekali udara saat itu, bahkan lebih dingin daripada saat aku bertanding lomba di kota Malang beberapa tahun yang lalu saat aku masih sekolah SMA. Saat di Malang itu aku dengan beberapa kawanku tanpa dikomando oleh ketua langsung hinggap ke warung kopi sambil menikmati pedasnya somay serta bakso tentunya, apa intinya pergi ke Malang jika tak menikmati makanan tradisionalnya bagi kami pecinta kuliner murah.
Sesekali aku tertawa menikmati kenangan indah bersama teman-teman dulu, sekarang kami sudah terpisah jauh-jauh, diantaranya ada yang ke Sudan, ada yang di Jakarta, dan aku sendiri terdampar di kota Pekanbaru dengan orang-orang yang aku harus bisa beradaptasi dengan mereka.
Restoran masakan Jepang di samping jalan sempit itu nampaknya telah berhasil menggodaku. Aku menuju kesana sendirian, tak lama kemudian Ramen yang tadi kupesan sudah tersaji hangat di depan mataku, sebelumnya aku hirup hangatnya teh, nikmatnya bukan main saat cuaca dingin seperti itu. Lalu tanpa menunggu mi Ramenku dingin karena pengaruh musim salju, aku santap layaknya harimau memangsa daging kijang. Tapi sialnya aku tak biasa makan menggunakan sumpit, aku menoleh kekanan dan kekiri, disampingku orang orang makan dengan terampil menggunakan sumpit, lalu seperti orang yang bodoh, aku makan dengan menggunakan sendok, sambil menundukkan mata malu jika dilihat orang asli Jepang yang melihatku makan menggunakan sendok.
“Belum terampil menggunakan sumpit ya?” suara seorang wanita mengagetkanku dalam logat Jepang-nya yang cempreng dan membuatku tersedak.
Aku nyengir saja sambil menahan malu, lalu aku ucapkan “ Itadakimasu!”(Dalam bahasa Jepang berarti “Mari Makan”).
Wanita itu hanya melempar senyum cantiknya lalu nyelonong pergi, dalam hati aku berharap ingin bertemu dia lagi. Ingin kuabadikan senyum cantik itu.
***
Dulunya aku tak bisa menyangka kalau takdir bisa menorehkan tintanya untuk menetapkan bahwa aku bisa sampai ke negeri Sakura ini. Semua ini memang misteri, sangat misteri terutama bagi aku yang sering dilanda pergulatan pemikiran dan sering jatuh di dalamnya, kesemuaan itu adalah proses yang aku jalani demi mendapatkan kebenaran yang hakiki. Tulisan tangan para atheis itulah yang membuatku berfikir cukup keras tentang keberadaan alam ini, asal usul serta kemana kita akan pergi. Aku berfikir bahwa alam ini memang ada dengan sendirinya tanpa ada campur tangan Tuhan, dana Tuhan sendiri adalah energy, Tuhan bagiku saat itu hanyalah simbol semata bagi energi. Karena sesuai azaz kekekalan dalam energi; “Energi tak bisa diciptakan dan tak bisa dimusnahkan, tapi energi bisa dirubah menjadi bentuk energi yang lain.”
Ketika aku berfikir demikian kritis, aku semakin terhempas saja dalam pemikiran-pemikiran yang semakin rumit seperti benang yang kusut, sepertinya pemikiranku sendirilah yang berkelana entah kemana dan tak menemukan titik final, belum lagi beberapa pendirian tokoh-tokoh Yunani yang melegenda itu berbeda-beda memusingkan kepala, tak ada garis besar untuk menemukan kebenaran, yang ada hanya silang pendapat yang semakin rumit jika semakin didalami dan dibandingkan.
Untuk sementara waktu aku menutup pikiranku dari “celoteh-celoteh” mereka yang tersimpan di buku-buku filsafat, aku cukup menikmati teori sensasional fisika yang dibawakan oleh Albert Einstein dan Stephen Hawking, aku menutup diri dari Tuhan, membiarkan diriku sediri beristirahat menikmati kajian bidang lain yg tak merumitkan otakku ini. Dalam pendapat Stephen Hawking dan Albert Einstein pun mengalami perbedaan yag cukup signigfikan mengenai Teori Relativitas, terutama sekali ketika membahas tentang alam semesta yang berisi lubang hitam. Benar-benar sangat rumit untuk menjangkau hal-hal yang masuk dalam daftar Metafisik.
Keberangkatan menuju Tokyo diselenggarakan oleh pihak Universitasku, kebetulan saat itu aku terpilih sebagai duta kampus yang mewakili lomba Debate English, ya walaupun logat Jawa-ku masih nampak, tapi tak apalah yang penting tak sampai menghilangkan maksud dari apa yang aku katakan nantinya, iseng-iseng juga buat canda dalam pertandingan nantinya.
Akhirnya perjalan itu mengantarkan aku pada Restoran Sushi ini, yang pada kenyataannya aku lebih suka makan Ramen daripada Sushi. Daging mentahnya itu aku tak bisa makan. Perjalanan ini juga mengantarkanku pada seorang gadis Jepang yang kawaii(kawaii bisa berarti lucu atau cantik) itu yang membuatku aku tersedak.
Setelah membayar pada kasir, aku pergi ke luar dengan badan yang hangat, aku melihat gadis itu lagi. Dia berada dalam rumah bangunan besar dengan banyak kaca. Aku lihat dia dengan beberapa gadis cantik lain sedang mengobrol dengannya.
Aku cukup melihat dari jarak jauh saja, mungkin memang terkendala bahasa. Bagiku menguasai bahasa Inggris saja sudah sangat beruntung sekali daripada bahasa Jepangku yang agak gratul-gratul(tidak lancar) ini, maklumlah namanya juga otodidak, pikirku.
Hari ke-dua aku bertemu lagi dengan gadis itu, kali ini aku bertemu saat aku keluar menikmati mentari senja yang hendak menutup diri membiarkan malam hari menyelimutinya, aku melihat dia sedang berada di dalam mobil Sport dan berhenti tepat di depan sebuar Club Bar, dan pandanganku lenyap ketika mereka masuk pintu dengan temaram cahaya warna warni bertuliskan huruf Kanji. Yang kuingat lelaki yang bersamanya sudah berumur di atas tiga puluh-an dengan pakian seperti pengusaha sukses, ataupun mungkin pemimpin perusahan atau juga mungkin anggota parlemen yang ingin “jajan” ke warung prostitusi.
Hari ke-tiga aku bertemu lagi dengan wanita kawaii itu tapi hari ini aku ketahuan olehnya saat pandangan mata kami beradu. Lalu dia sambil tersenyum seolah mengirim sinyal bahwa dia masih ingat aku dan aku pun membalas senyum lalu menunduk agak canggung, lelaki di sebelahnya memegang erat tangannya, kali ini yang menggandeng tangannya adalah seorang yang tampan rupawan, berkulit putih, sepertinya lelaki itu artis atau model sebuah majalah mungkin. Dengan gaya rambut Anime.
Dari berbagai konflik pemikiran yang aku alami, aku cukup terhibur oleh gadis Kawaii di negeri Sakura itu, dia sepertinya selalu ceria dan apa adanya, mungkin karakter pendiamku akan dilahapnya habis dengan sifat periangnya jika saja kami sudah berkenalan, itupun kalau akrab.
Menikmati Ramen lagi ketika hujan salju malam hari sendirian, ini hari terakhir aku menginjakkan kaki di tanah para Samurai, besok aku harus pulang ke tanah air karena waktu bertanding telah usai. Aku sempatkan membeli beberapa Souvenir dan aku setengah terkejut ketika seorang di depanku menghampiriku dengan wangi pafumnya yang mahal lalu menyapa:
“Aku Sae-chan, siapa namamu?”
Aku dengan terbata-bata membalas perkenalan “A-aku Aldi”
“Senang bereknalan dengan mu, aku sering melihatmu sedirian kemana-mana, pasti kamu Gaijin ya?!” (Gaijin sebutan untuk orang selain Jepang)
“Ya aku asli dari Indonesia.”
Ternyata gadis itu bernama Sae, setelah lama menanti untuk berkenalan, ternyata dia datang dengan sendirinya.
“Untuk keperluan apa ke Jepang?”
“Aku perwakilan dari negaraku untuk festival lomba”
“Wah semangat ya!”
Perbincangan kami mengarah kemna-kemana, topik yang tak dibatasi membuat kami berlama-lama di Toko Souvenir itu hingga larut malam, setelah pamit pulang, aku berkesimpulan bahwa gadis secantik itu ternyata seorang pelacur. Dari keterangan yang lugas dan jelas saat berbincang tadi. Sangat disayangkan gadis secantik dia menjadi pelacur, kalau di negaraku mungkin dia bisa menjadi artis, gumamku dalam hati. Terakhir aku bilang aku besok akan pulang ke Indonesia dan aku beri dia alamat email supaya kami bisa berhubungan ketika aku sudah kembeli lagi ke negaraku.
Setelah menunggu cukup lama di bandara Shibuya, aku masuk pintu pesawat dan menghirup udara yang terkahir kali di Negara super power itu. Beberapa jam kemudian aku beserta temanku tiba di bandara Soekarno-Hatta. Dan setelah tuntas mengemasi barang-barang dan mengurus kepulangan dari petugas bandara, aku merasa cukup pusing, aku tiduran di kamar.
***
Ketika bangun yang pertama kali ku ingat adalah Sae, aku langsung menyambar laptopku dan mengirim email ke Sae bahwa aku telah sampai di negaraku dan sedikit berbasa-basi. Dan dibalas olehnya. Hatiku berbunga-bunga, mungkin ini yang dinamakan cinta.
Sejak saat itu aku agak melupakan kerumitan berfikir tentang ke-tuhan-an, aku jatuh cinta pada seorang pelacur lebih tepatnya. Hari-hari kuhabiskan dengan berkomunikasi dengannya melalui Email. Apa ini benar-benar cinta? Sungguh cinta yang gila jika aku jatuh cinta pada seorang pelacur cantik.
Ketika liburan semester, aku rencanakan untuk berangkat ke Jepang, demi bertemu Sae.
***
Hari senin kami di awal minggu pertama liburan semester. Aku berjalan melihat-lihat kebesaran kota Tokyo. Aku bersama Sae, kami berdua saja. Sebetulnya, lebih tepatnya kami sedang berkencan. Tapi secara resmi aku belum pernah menyatakan perasaan ke dia. Aku mengajaknya berjalan-jalan dengan alasan aku minta pemandu yang bisa mengantarkan aku keliling Tokyo.
“Sae, maaf sebelumnya, kenapa kamu memilih menjadi pelacur?” aku membuka percakapan ketika kami berdua terduduk di taman kota.
“Pertanyaan itu kenapa kamu kasih ke Sae-chan?” Sae menjawab dengan melempar pertanyaan kembali.tapi agak lama dia terdiam dan melanjutkan.
“Sae-chan sering merasa tak adil atas ketetapan Tuhan. Jika saja Sae-chan memiliki keluarga yang lengkap dan Tuhan yang Maha Pengasih tak melimpahkan Tsunami, tentu Sae-chan tak kan mau menjadi pelacur.” Sae berair matanya.
“Apakah Tuhan memang adil”?
Aku hanya tertunduk lesu, tak ada yang bisa kujawab. Aku yang selama ini menganggap Tuhan tak pernah ada hanya terbungkam. Aku bertemu seorang yang meyakini ada Tuhan sedang aku sedikit tak memikirkannya.
“Sae, aku ingin mengungkapkan perasaanku selama ini terhadapmu. Aku mencintaimu.” Aku memberanikan diri mengatakan itu. Aku ingin mengubah haluan topik. Aku tak ingin Sae menangis lagi.
“He?” dia terbengong.
“Aku menyukaimu, Sae!” aku tegaskan sekali lagi.
“Sae butuh waktu untuk menjawabnya. Kenapa Aldi-kun mencintai seorang pelacur? Apakah Aldi-kun tak malu kepada Negara Aldi, Indonesia.? Apakah gadis Indonesia tidak ada yang menarik untuk Aldi-kun?”
“Sae-chan. Ini dari hatiku, aku suka Sae. Aku ingin bersama Sae.”
***
Negara Indonesia sedang musim panas bulan ini, kebetulan saat ini adalah bulan yang suci menurut agama Islam. Para Muslim sedang berpuasa di bulan Ramadhan. Aku sendiri menatap ketidak pastian hidupku di depan jendela perpustkaan wilayah kota Pekanbaru. Kenapa para Muslim menyiksa diri mereka dengan tidak makan, tidak minum? Apa tujuan mereka? Aku tak tahu dan tidak bisa menjawab, karena yang aku tahu hanyalah; Islam agama yang dipeluk mayoritas penduduk Indonesia.
Ayah yang meninggalkan ibuku sejak kecil katanya adalah orang Islam. Tapi aku tak tahu, terakhir aku tahu dia pergi ke Kalimantan setelah itu 15 tahun tak pernah mendengar kabarnya. Ibuku telah lama menanti ayah. Tapi penantian itu hanya membekaskan perih tak terduga keada kami, khususnya ibuku. Dia menjadi tulang punggung kelurga. Merantau ke Malaysia menjadi TKW. Setelah kejadian itu aku semakin merasa bahwa ingatanku kepada ayahku adalah racun dendam yang semakin menyebar keseluruh sel-sel darah, seluruh tubuhku menembus ubun-ubun dan berujung di telapak kaki. Aku dendam akan derita yang ia berikan. Kenapa ia tak memberi kabar? Bukankah ada telepon seluler berserak di kota-kota? Bukankah ada kantor post? Kenapa ia tak memberi suatu kabarpun lewat surat?
Dendam yang aku alami ternyata membawa kekuatan dahsyat kepadaku. Terbuktui bahwa selain rasa takut, dendam adalah motivasi terhebat dalam hidup ini. Aku meraih juara dalam berbagai lomba di kampus. Aku hajar habis-habisan lawanku sampai titik darah penghabisan dengan argumen-argumenku yang setajam pedang Katana. Aku juga memenangi Asean Games cabang olahraga pencak silat Judo. Aku banting lawanku dengan keras seperti aku membanting bantal, kadang juri sempat heran, bagaimana mungkin aku bisa segarang itu? Apa motivasiku sehingga membuat aku semakin kuat?. Aku hanya tersenyum kecut di depan mereka.
Jika aku boleh jujur ya? Aku dendam atas takdir yang kuterima. Kenapa aku selalu sial, aku mendapatkan rasa pahit yang mendalam atas ketentuan-ketentuan takdir. Hal inilah yang membuatku tak ingin mengenal apalagi mendekati Tuhan. Bagiku Tuhan adalah kiasan dari energi. Karena Tuhan memiliki sikap kekal yang juga dimiliki oleh energi yang mencipta seluruh alam semesta ini. Dengan menyakini energi itu lebih baik karena hidup terasa pasti dan tak melakukan hal-hal yang tak masuk akal serta menyiksa tubuh seperti berpuasa.
Aku meyakini Tuhan adalah enegi yang selalu bergerak dan berubah. Bukan Tuhan yang ditegaskan sebagai Dzat Yang Maha Kuasa dan Esa seperti dalam Kitab-kitab agama. Aku lebih mempercayai teori fisika empiris dan rasionalis. Jadi Tuhan yang kugambarkan di fikiranku bukan Tuhan, melainkan medan energi yang tak sadar terhadap dirinya sendiri dan mengubah pola-polanya sejalan dengan bergeraknya alam semesta. Medan energi yang bergerak tak kenal arah yang membiarkan segala hukum-hukum berputar. Bukan sebagai Tuhan yang mendalangi seluruh alam semesta. Aku seperti orang-orang atheis itu. Lagipula mempercayai Tuhan itu sama saja membuat kotak-kotak dalam bersosial, kerap kali agama membuat masyarakat terpisah. Kekejaman atas nama agama juga sering terjadi, bukan? Jangankan lain agama, satu agama saja dalam dirinya seringkali pemeluknya saling menyalahkan, saling mengkafirkan dan menyesatkan. Nampaknya untuk sekarang aku berfikir agama justru malah menyesatkan, bukan memberi petunjuk lagi.
Aku lebih menyukai hal-hal pasti yang bisa diindera. Fisika rasional. Pemecahan masalah secara logika dan sejenisnya memberi manfaat yang nyata kepada umat manusia. Lihat saja, produk peradaban dunia ini dicipta bukan dari doktrin agama, tapi kerja keras dan cerdas. Bukankah agama yang terlalu ekstrem malah menjauhi kehidupan duniawi?
Lebih baik berteori fisika yang hasilnya bermanfaat untuk anak-cucu. Bukankah setiap agama selalu menggemborkan untuk berlaku manfaat kepada sesama? Nah aku tak percaya pada pemeluk agama yang kelakuannya malah tak sesuai dengan agama yang dianutnya. Bukankah lebih baik tak usah saja beragama?, karena buat apa beragama jika tak ada bekas manfaatnya dalam kehidupan, malah perilakunya membuat resah orang-orang disekitar.
Quark baru-baru ini ditemukan, ini yang mengguncangkan juga bagiku. Kupikir di alam semesta ini hanya berisi 2 unsur saja. Materi dan energi. Tapi setelah ditemukan hasil penelitian ternyata jika atom itu sendiri merupakan pilinan-pilinan energi. Jadi semua yang ada di alam semesta ini adalah energi? Begitu kurang lebih yang aku terima. Agak tak masuk akal juga. Tapi lebih baik begitu, agar teori yang usang bisa ter-update dengan adanya penelitian baru. Dengan begitu keyakinan lamaku roboh, ternyata tak ada lagi materi. Hanya energi yang sesungguhnya yang menyusun alam ini.
Aku suka berdiskusi tentang keilmuan. Apapun itu, hanya saja ketertarikanku pada dunia Sains cukup kuat. Tapi aku menerima segala ilmu, entah itu politik, eknomi, agama bahkan. Malam jum’at aku bersilaturrahmi ke rumah Pak Jalil. Beliau adalah Kiai besar yang memiliki pesantren dan yayasan. Orangnya dikenal alim dan berbuat baik kepada masyarakat, suka meberi makan orang-orang yang tak mampu dan gemar berpakaian serba putih.
“Jadi ada perlu apa kesini Mas Aldi?.” Sapaan beliau membuyarkan lamunanku.
“Mengapa orang Islam harus berpuasa ya, pak, sedangkan berpuasa itu kan menyiksa tubuh kita dan membuat kinerja aktivitas kita menurun, bukankah begitu, pak?” aku membuka pertanyaan yang selalu mengganjal di bathinku.
Pak Jalil diam tertegun sejenak dan melihat ke dalam mataku, sepertinya melihat sisi dalam hatiku yag terdalam, menyelami apa yang ada di hatiku serta menerawang semua yang terjadi.
“Puasa meruapakan salah satu perintah Tuhan yang diwajibkan untuk umat Islam. Perintah Tuhan tentu saja tak bisa kita bantah atau kita tawar, atau kita mencpba-coba menari tahu alasannya. Hanya tuhan yang tahu mengapa kita harus berpuasa. Tak bisa kita fikir. Hanya saja kita bisa mengambil hikmah dan fungsi positifnya. Serta petunjuk dari nabi Muhammad SAW bahwa berpuasalah maka akan sehat badan. Puasa mungkin tampaknya melemahkan fisik, namun sejatinya malah menguatkan bathin atau dalam sitilah lain menguatkan spiritual. Nanti mas Aldi akan menjumpai penemuan bahwa puasa malah menguatan badan juga, karena metabolisme dan lain sebagainya yang meregenerasi ulang setiap sel-sel tubuh. Nak Aldi nampaknya lebih tahu daripada saya. Garis besarnya, Tuhan menyuruh sesuatu hakikatnya untuk manusia sendiri. Tuhan Maha Terpuji dan Kaya, tak pernah membutuhkan apapun dari mahluk-mahluknya.” Demikian penjelasan panjang lebarnya.
“Kenapa kita mesti bertuhan, pak? Bukankah bertuhan hanya menyebabkan kemunduran? Mepercayai hal-hal yang tak masuk akal serta mematikan kreativitas kita karena banyak laranganan?”
Lama Pak Jalil menerawang ke dalam mataku sambil sesekali tersenyum bijak.
“Kita ini adalah ciptaan dari sang pencipta? Iya kan Nak Aldi?”
Sebelum aku sempat berbicara. Pak Jalil meneruskan kalimatnya.
“Coba Nak Aldi perhatikan, adakah benda yang bisa bergerak sendiri? Apakah jumlah planet yang banyak itu bergerak sendiri? Jika memang benar bergerak sendiri tanpa campur tangan Yang Maha Tunggal harusnya mereka bertabrakan bukan? Atau asteroid asteroid yang banyaknya itu bukankah akan seirng jatuh ke bumi, atau bumi yang jauhnya telah benar-benar dirumuskan masak-masak dari matahari, jika terlalu dekat maka akan terbakar atau terlalu jauh maka dingin karena sinar matahari tak cukup untuk melakukan proses fotosintesa pada tetumbuhan? Bukankah segala alam semesta ini dan isinya ini adalaah bukti keberadaan Tuhan?”. Sambil menyeruput kopi, beliau melanjutkan.
“Orang-orang atheis tak kan berfikir bahwa segala kerumitan dan kerapian system ini adalah bukti keberadaaan Tuhan, apa mungkin ada yang bergerak dengan demikian canggih tanpa ada yang memprogram dan mengorganisirnya?”
“Orang atheis tak ubahnya seperti orang yang tak meyakini oksigen itu ada, padahal mereka setiap hari menghirup oksigen”. Itu kalimat pemungkas yang masuk ke dalam hatiku yang masih gamang.
***
“Kalau nanti berjumpa Tuhan, aku nitip salam ya!” Sae suatu ketika mengagetkanku dengan permintaanya.
“Kenapa begitu?”
“Aku ingin Tuhan mengerti apa yang aku rasakan selama ini. Aku menjadi gadis pelacur karena keadaan memaksaku.”
Aku terdiam serta tertunduk.
Ketika perbincangan usai, dia meberikan aku jaket Harajuku. Aku menerimanya dengan suka cinta. Karena sejujurnya aku cinta dia. Walaupun dia pelacur, tapi dia pelacur yang berjasa besar kepada adik-adiknya, orang tuanya. Ia ibarat pahlawan tanpa tanda jasa ke-dua setelah guru. Jika saja Tuhan tak menakdirkan Tsunami terjadi berkali-kali di negeri jepang. Maka ayahnya pasti hidup. Ayahnya hilang ditelan Tsunami sejak dia kecil. Yang tersisa hanya ia, ibunya dan adik-adiknya. Ia terpaksa berhenti sekolah karena mebantu ibu sebagai penguat tulang punggungnya. Sungguh aku tahu yang ia rasakan, karena aku tahu rasanya ditinggal seorang ayah.
Tapi aku tak pernah mendengar ia berkeluh kesah. Ia selalu tersenyum cantik, baik di hadapanku atau di hadapan para hidung belang jepang, atau para pejabat. Ia tak pernah menyerah. Ini yang membuatku semaki mencintainya.
“Mintakan ketika kamu bertemu Tuhan, ampunkan segala kesalahanku, aku ingin pembebasan dari dosa.”
Aku mengiyakan dengan datar. Aku tak tahu apa yang mesti aku katakan saat itu.
Sejujurnya aku tak tahu tuhan mana yang mesti disembah, tuhan memiki banyak nama di lain agama. ada yang bernama dewa, dan jumlahnya ribuah bahkan. Ada yang bernama kristus kudus, ada yang bernama Allah. Ada yang berupa patung-patung dan lain sebagainya. Semua meyakini bahwa agama masing-masing yang benar.
Aku bahkan kadang tak mau membicarakan Tuhan, aku ingin menjadi mahluk sosial saja. Tak perlu berfikir tentang hal-hal yang abstrak dan tak bisa dibuktikan secara empiris. Hidup bagiku cukup membantu sesama dan tak berbuat jahat atau menyakiti.
Sebulan yang lalu aku mendapat email darinya, katanya dadanya sesak. Sebelumnya ia mengatakan bahwa ia terkena radang paru-paru. Kabar yang baru datang melaporkan ia meninggal dan jenasahnya telah dikuburkan, aku tak bisa datang. Aku sempat menitikkan air mata ketika mendapat kabar itu. Tapi aku tak mau terlihat cengeng. Lengkap sudah penderitaanya. Gadis yang aku cintai meninggal dengan banyak luka derita di hidupnya.
Aku belum sempat melakukan pesan wasiatnya, bahwa jika aku berjumpa Tuhan aku akan mendoakannya.
***
Terkadang aku merasakan kesepian dan sunyi di hatiku. Hal itu sering muncul ketika aku tengah malam sendirian di kamar. Walaupun suara-suara dari luar memberi tanda bahwa mereka belum tidur, akan tetapi, ah entah hati ini merasa kesepian. Kematiannya sebenarnya telah terjadi lima tahun yang lalu. Senenarnya aku telah melupakannya. Tinggal kenangan manis dan jaket Harajuku yang tinggal di lemariku.
“Apa benar kehidupan haya berakhir di dunia ini saja.? Tak adakah kehidupan setelah kematian?seperti para pastur yang bilang.”
Aku belum sempat mengajak dia jalan-jalan ke lain Negara. Aku ingin mengajaknya ke menara Eiffel atau ke tembok raksasa Cina. Atau ke Hawai. Maut sudah keburu menjemputnya. Aku ingin membisik di telinganya bahwa aku benar-benar mencintainya saat ini tepat di bawah menara Eiffel.
Kadang aku takjub sendiri dengan menara Eiffel ini, hanya terdiri dari logam tapi sangat tinggi dan bisa kokoh menopang dirinya sendiri, tak roboh. Aku berfikir apakah perancangnya sudah bisa merasakan keindahannya sekarang? Hanya kamilah yang bisa merasakan. Satu hal yang pasti terhadap menara Eiffel ini, ia pasti memiliki perancang, terbukti dengan keindahan bentuk dan kokohnya bangunan. Tak mungkin menara sekokoh ini berdiri sendiri.
Aku juga befikir bahwa alam semesta ini terjadi sedemikian luar biasa cantik sistemnya. Apakah alam semesta ini terjadi dengan berdiri sendiri? Betapa indahnya sistem tata surya atau alam semeta ini, belum lagi tubuh setiap mahluk; mata elang yang tajam, burung yang bisa terbang, ikan yang bisa bernafas dalam air, atau unta yang bisa bertahan dalam panasnya padang pasir tanpa air. Setiap mahluk memiliki sistem kecanggihan yang luar biasa, lebih luar biasa dari robot ciptaan manusia, apakah itu semua tak ada yang merancang? Keindahan bentuk dan kerumitan sistem itu apakah bisa terjadi sendiri? Tak mungkin hal itu terjadi secara tiba-tiba dan tanpa sadar. Pasti ada yang berbuat dibalik layar ini. Tapi siapakah itu? jujur aku tak tahu. Mungkin itu Tuhan yang Maha Kuasa?
Setelah ini aku akan pulang ke Indonesia dan akan menceritakan semuanya kepada Kiai Jalil, aku akan memberkian banyak pertanyaan kepadanya, misteri tentang cinta dan Tuhan yang aku tak pernah berhasil menguaknya. Jaket Harajuku ini akan menjadi saksi bahwa aku akan menyampaikan salamnya kepada Tuhan. Terimakasih telah mengingatkan aku, Tuhan.
tulisan ini di kirim oleh :
status : Mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris
sem.5 di UIN SUSKA RIAU
Tag :
Kiriman Pembaca


0 Komentar untuk "Jaket harajuku"